Fakta Bangunan Gereja Katedral Jakarta


Jika berjalan di kawasan Lapangan Banteng, mata kita akan tertuju ke dua menara menjulang nan indah di seberang jalan. Inilah menara Gereja Katedral Jakarta, bangunan bergaya neo-gotik yang menjadi salah satu bangunan Cagar Budaya di Jakarta. Saya berkesempatan mengabadikan bangunan nan indah ini setelah dari Mesjid Istiqlal. Beberapa fakta terkait pembangunan Gereja Katedral mungkin bisa menambah wawasan kita.

Gereja Katedral Jakarta

Gereja Katedral Jakarta

Matahari sore menyinari Gereja Katedral (Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga) Jakarta berpayung langit cerah. Gereja bergaya neo-gotik ini diresmikan oleh Vikaris Postolik Jakarta bernama Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ pada 21 April 1901.

Pelopor pembangunan Katedral Jakarta ini diprakarsai oleh Leonardus Petrus de Ghisignies, komisaris jenderal yang juga penganut Katolik. Pada 1826, ia meminta Ir. Tromp untuk merancang gereja Katolik pertama di Batavia. Namun, dalam perjalanannya bangunan ini rusak parah.

Pembangunan ulang Pada November 1890, ditandatangani kontrak untuk pembelian tiga juta batu bata. Setiap bulannya, perusahaan pembakaran batu bata harus menyerahkan 70.000 batu bata untuk pembangunan gereja baru. Pastor Antonius Dijkmans, SJ ditunjuk sebagai perencana dan arsitek dalam pembangunan gereja ini.

Baca Juga:  Kolam Renang dari Kontainer Bekas

Pembangunan sempat terhenti karena kekurangan dana. Namun, Uskup Mgr. Edmundus Sybradus Lupyen, SJ melalui badan pengurus gereja dan para umat berusaha mengumpulkan dana untuk melanjutkan pembangunan gereja.

Arsitektur gereja ini bergaya neo-gotik. Di bagian depannya terdapat tiga Menara Angelus Dei setinggi 45 meter, dan diapit dua menara setinggi 60 meter. Pada bagian dalam terdapat mimbar bercorak gotik buatan firma Te Poel dam Stoltefusz dan tiga buah altar.

Peresmian De Kerk van Onze Liece Vrowe ten Hemelopnemin’ atau ‘Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga’ ini diresmikan oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ. Gereja ini populer dalam masyarakat dengan sebutan Gereja Katedral karena di dalamnya terdapat cathedra yakni takhta uskup.

Museum katedral menyimpan berbagai benda- benda bersejarah seperti alat-alat ibadah, pakaian, lukisan dan foto, patung-patung, buku, dan beberapa benda penting lainnya. Tersimpan pula tongkat Paus Paulus VI yang dihadiahkan kepada Uskup Agung Jakarta kala itu.

 

Fakta Bangunan Gereja Katedral Jakarta

Artikel Terkait

Tentang Penulis: Lentera Rumah

Blogger yang suka menulis dan berbagi tentang properti dan lingkungannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *