Pengertian Fasade Dalam Bangunan Rumah


Pengertian Fasade Bangunan adalah bidang yang berada di bagian depan pada sebuah bangunan yang dapat menentukan suatu gaya arsitektur tertentu ketika kita melihat karakter tampilannya.

Fasade Dalam Bangunan

Dalam Element of Architecture disebutkan bahwa akar kata ‘fasade’ (façade) diambil dari kata latin ‘facies’ yang merupakan sinonim dari ‘face’ (wajah) dan ‘appearance’ (penampilan).

Pengertian Fasade

Burden (1995) mengemukakan bahwa fasad bangunan adalah, “external face or elevation of a building, especially the principal front”.

(Ambrose dan Harris, 2008): The façade is the exterior front plane of building; it sets the visual tone and contains many of the identifiable architectural features that are typically used to classify architecture. The term comes from the French word meaning ‘frontage’ or ‘face’. The particular style and historic nature of many facades mean that they are protected by building regulation, which forbid alterations.

Fasade juga dapat diibaratkan sebagai ‘kulit’ dari sebuah bangunan. Jika kita ibaratkan kulit pada manusia yang bisa menandakan ras yang menjadi karakter manusia, maka “kulit” pada bangunan akan juga bisa menjadi ciri atau karakter bangunan tersebut.

Hal ini juga dipertegas dalam sebuah buku tentang pemahaman arsitektur yang menyebutkan bahwa karakter suatu bangunan akan terlihat ketika kita menemukan suatu elemen yang dominan pada bentuk fasade tersebut. Beberapa bentukan elemen fasade yang dapat menegaskan karakter fasade.

Fasade Dalam Bangunan Rumah

Fasade bangunan rumah merupakan wajah utama atau tampak depan dari sebuah eksterior rumah sehingga dapat dilihat dari jalan atau area publik lainnya. Oleh karena itu, membicarakan wajah sebuah bangunan, yaitu fasade rumah yang dimaksudkan adalah bagian depan rumah yang menghadap jalan.

Rumah dalam hal ini hanya dilihat sebagai produk akhir, bukan sebagai proses yang dinamis. Seorang psikolog – Abraham Maslow, membagi kebutuhan dasar manusia akan rumah menjadi beberapa tingkatan dengan intensitas yang berbeda-beda mulai dari kebutuhan fisiologis, rasa aman (secure), sosialisasi, penghargaan dari orang lain, dan aktualisasi diri.

Dalam hirarki ini, rumah dapat dimasukkan ke dalam kebutuhan pertama, kebutuhan untuk “survive“, tapi rumah pun dapat dimasukkan dalam kebutuhan berikutnya, yakni untuk “secure”. Rumah bukanlah benteng, juga bukan kemah, pada tahap evolusi manusia sekarang ini, rumah sudah menjadi bagian dari kebudayaan, menjadi bagian dari “being” dan “becoming” dan bukan sekedar bagian dari kepemilikan (having).

Sampai di sini, rumah mendapatkan dimensi sosialnya yang lebih luas. Dalam hal ini sudah masuk ke dalam kebutuhan akan persahabatan dan kasih sayang (sosialisasi).

Rumah, dengan arsitekturnya tentu saja akan menunjukkan bagaimana makna kasih sayang itu untuk penghuninya. Dengan demikian, rumah pun akhirnya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan akan aktualisasi diri dan identitas diri.

 

Pengertian Fasade Dalam Bangunan Rumah

Artikel Terkait

Tentang Penulis: Lentera Rumah

Blogger yang suka menulis dan berbagi tentang properti dan lingkungannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *